Berkunjung Ke Pantai Punaga Pada Masa Pandemi

 


Hampir sebulan sudah saya membusuk di rumah akibat pandemi covid-19. Sebenarnya bukan karena isolasi. Yeah! Kata isolasi mungkin bukan kata yang tepat bagi seorang pengangguran seperti saya, setelah motor yang saya gunakan mencari rejeki sehari-hari sebagai ojol, turun mesin.

Singkat cerita, beberapa minggu kemudian, saya mendapat ajakan dari kawan-kawan saya untuk mengambil liburan ke luar kota. Entah, siapa yang duluan punya ide, tapi kami sepakat untuk berlibur ke daerah di Kabupaten Takalar. Jadilah kami bingung sebab tak satupun dari kami yang tahu spot liburan di Takalar, apalagi tahu jalannya.

Puji ubur-ubur, kami hidup di era "Mbah Google" yang sakti tahu segalanya. Setelah hampir sejam kami searching di Google, terbawalah kami pada adegan film di bawah ini :

     
Sumber : Vidio

 
Pantai Punaga, itulah tujuan daripada kunjungan kami ke Takalar. Dengan menaiki sebuah mobil Avanza putih milik teman saya, berangkatlah kami berempat ke pantai tempat Zainuddin merenung itu. 

Bila mengacu dari Google maps, jarak dari Makassar ke sana berkisar 55,9 KM dengan waktu tempuh 1 jam 28 menit. Puji syukur lagi, perjalanan kami agak tertolong karena pandemi sepertinya membuat jalanan tidak seramai biasanya. Meski ada sedikit macet di Jembatan Kembar Gowa, selebihnya kami melakukan perjalanan dengan lancar. 

Yang mengembirakan adalah, Jalan Poros Limbung yang kami lintasi itu kini sudah di aspal kembali, sehingga sudah tidak ada lobang yang mengganggu perjalanan. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu kala melintasi jalan itu, yang biar kata beraspal, tapi rasanya seperti melintasi medan offroad, Jelek sekali.

Begitu tiba di Takalar melintasi pembelokan yang mengarah ke pantai, kami melewati salah satu wahana permandian terkenal di Takalar, Topijawa. Khusus untuk Topijawa, saya akan membuatkan ulasan khususnya di lain artikel. 

Mendekati lokasi tujuan, hamparan empang dan sawah di sebelah kiri muncul silih berganti, sementara di sebelah kanan kami terbentang laut dengan bergulung-gulung ombak. 

Aroma khas rumput laut menggelitik hidung kami Begitu memasuki kawasan kampung nelayan, kurang sedap juga bau itu sebenarnya. 

Kalau tidak salah, kami juga sempat melintasi 2 jembatan menyebrangi muara. Yang menarik perhatian kami dari itu adalah, ada semacam bangunan menara yang dibuat dengan bambu, memiliki empat kaki penyanggah, yang di setiap kakinya diikat jaring. Kami tidak tahu apa persis fungsinya.

Pada pukul 12.00 Wita, tibalah kami di depan gerbang pantainya si Zainuddin itu. Suasana di sana memang agak sepi. Harga tiket masuk untuk ke area pantai berkisar Rp.15.000,- per orang.

Gerbang Pantai Punaga.

Kami merasa sedikit kecewa karena air laut menjadi keruh setelah hujan deras. Ini yang kemudian menjadi pelajaran bagi kami kalau ingin pergi ke pantai; Jangan pergi ke pantai saat hujan. 

Mungkin karena musim hujan itu jugalah pantai ini jadi sepi. Padahal waktu kami kunjungan ke sana sudah masuk liburan tahun baru (Atau mungkin kami saja yang bebal, liburan di masa pandemi). Akhirnya kami memutuskan untuk singgah sebentar saja, sebelum berpindah tempat ke Topijawa.

Di dalam pantai, jajaran gazebo sudah disiapkan sebagai tempat berlabuh pengunjung yang ingin sejenak bersantai. Sebenarnya, jika boleh jujur, tidak ada hal yang bagus-bagus amat dari pantai itu saat hujan. Air biru yang kami harapkan jadi keruh, ditambah luasnya yang tidak seberapa (Ada area yang dipagari dinding batu). Kios penjual makanan juga tertutup saat itu. Tapi mungkin, sunset di pantai itu bakal Ok juga, seandainya kami bisa menunggu lebih lama.


Gazebo.


Gazebo.


Kios Penjual Makanan Yang Tutup.


Satu-satunya hal, yang mungkin membuat kami betah beberapa jam di sana adalah, ada sekelompok perempuan yang juga berkunjung, cantik-cantik juga bah 🤣! Jadilah kami empat lelaki genit yang sok tebar pesona di hadapan mereka.
     
Tangga menuju batu karang, tempat spot adegan Teggelamnya Kapal Vanderwick

Ini yang lucu, entah karena disengaja atau tidak, kelompok yang pada awalnya sibuk berswafoto itu, langsung tancap gas pergi meninggalkan pantai saat kami sedang mendekat tuk tebar pesona 🤣. Mungkin, mereka menganggap kami ini sekolompok sindikat penjahat kelamin 🤣. Seandainya saja kelompok perempuan yang juga terdiri dari empat orang itu pergi berenang, mungkin kami juga akan berenang karena saking gatalnya. 

Oh iya, jika dipikir-pikir pantai ini asik juga sebenarnya kalau ditempati berenang. Sebab, lingkungan pantainya yang bersih dan telah ditata rapi. Hanya saja, ada beberapa area yang sebaiknya harus berhati-hati karena terdapat batu karang yang bisa saja melukai kaki.

Demikian saja barangkali ulasan saya tentang pantai ini. Pantai yang terletak di kabupaten Takalar, desa Punaga ini mungkin saja menyimpan pesonanya sendiri bagi mereka yang berkunjung di kala tidak hujan. 

So, bagi kamu yang ingin ke pantai ini, jangan memakan ulasan ini mentah-mentah! Bisa saja kamu dapat menemukan hal menarik yang tidak kami temukan di sana!  
    

    
     
 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
Blog,Wisata